
Perang Pasca Dunia II, Antropologi Ekonomi benar-benar di pengaruhi oleh karya sejarawan ekonomi Karl Polanyi. Polanyi menarik pada studi antropologi untuk menyebutkan bahwasanya pertukaran pasar yang benar yaitu terbatas pada jumlah terbatas barat, orang-orang industri. Pemakaian teori ekonomi resmi (Formalisme) yaitu tak layak dalam orang-orang non-industri tegasnya. Dalam orang-orang non-industri, ganti " tertanam " di lembaga-lembaga non-pasar seperti kekerabatan, agama serta politik (inspirasi yang dipinjam dari Mauss). Dia memiliki loabel pendekatan Substantivism ini. The formalis vs debat Substantivist benar-benar punya pengaruh serta didefinisikan suatu masa.
Untuk globalisasi jadi kenyataan, serta pembagian pada pasar serta non-pasar ekonomi (atau pada " barat serta bekasnya ") jadi tak dapat dipertahankan, antropolog mulai lihat jalinan pada beragam jenis type pertukaran dalam orang-orang pasar. Neo-substantivists meneliti beberapa cara dimana dimaksud pertukaran pasar murni dalam orang-orang pasar tidak berhasil untuk masuk ideologi pasar. Antropolog Ekonomi sudah meninggalkan niche primitivis mereka terdegradasi oleh ekonom, serta saat ini berbalik untuk memeriksa perusahaan-perusahaan, bank, serta system keuangan global dari perspektif antropologi.
Baca juga: makalah perekonomian indonesia
No comments:
Post a Comment