Showing posts with label Peran Satpam. Show all posts
Showing posts with label Peran Satpam. Show all posts

Friday, January 10, 2014

Peran Satpam Dalam Mendukung Keberhasilan Pemimpin

Satpam! Nama singkat dengan tanggung jawab yang sangat besar. Nama sesungguhnya adalah satuan pengamanan yang di bentuk secara resmi pada 30 desember 1980 melalui surat keputusan kepala kepolisian Republik Indonesia (Kapolri). Pembentukan satpam dibutuhkan karena polri membutuhkan mitra. Pembentukannya memposisikan Satpam sebagai satuan keamanan fisik (physical Security).

Meskipun secara nyata, kemajuan satpam dalam memahami keamanan sebagai pelayanan jauh melebihi polisi. Peran Badan usaha atau instansi yang mempekerjakan mereka sangat besar dalam merubah wajah satpam menjadi lebih ramah. keberadaan satpam pun pada akhirnya tidak terlalu di takuti, namun sangat di harapkan oleh berbagai pihak.

Satpam adalah profesional yang di bekali pelatihan dengan jenjang tertentu. Peraturan kapolri nomor pol 24 th 2007 tentang Sistem pengamanan manajemen perusahaan/instansi pemerintah mengatur jenjang pelatihan satpam yang di bagi menjadi 3:

  1. Dasar (Gada Pratama)
  2. Penyelia (Gada Madya)
  3. Manajer Keamanan (Gada Utama)
Pelatihan Satpam
Pelatihan Satpam
Pelatihan Satpam sangat penting dilakukan untuk menjaga pola kerja yang harus di lakukan. Satpam berfungsi ganda, membantu pemimpin instansi tempat mereka bekerja dan memudahkan kerja polisi di sekitar lingkungan instansi tersebut.  Satpam dituntut kesadarannya dengan memahami hakikat keamanan yang mengedepankanpelayanan kepada masyarakat. Peran satpam tidak selalu berbanding lurus dengan pengakuan terhadapnya. Satpam tersungkur oleh opini subordinat. Ditambah lagi posisinya dalam ketenagakerjaan, seringkali outsourcing, Namun satpam tak boleh resah, karena keresahan satpam sama saja dengan ketidakamanan lingkungan. Dengan memberi rasa aman, satpam telah menunaikan setengah tugas negara yaitu memberikan kesejahteraan kepada rakyat melalui rasa aman.

Seringkali dengan arus globalisasi dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi, peran satpam dalam membantu tugas2 kepolisian semakin diperlukan. Berbagai perubahan dan perkembangan sebagai dampak ikutan dari arus globalisasi selain membawa kemajuan pada berbagai aspek kehidupan juga telah memunculkan beragam potensi kamtibmas yang dapat berpengaruh negatif terhadap keberlangsungan berbagai aspek dalam kehidupan sehari hari dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara termasuk dalam hal sektor usaha.

Satpam memegang peran penting sebagai operator dalam sistim pengamanan lingkungan kerjanya. peran ini sangat berpengaruh pada realisasi investasi di Indonesia. Terkait isu stabilitas keamanan lokal ini menunjukan bahwa peran satuan pengamanan adalah sangat strategis.

Tugas seorang satpam bukan hanya menjaga tempatnya bekerja, namun ikut mewaspadai potensi gangguan keamanan di sekitar lingkungan kerjanya. Satpam harus mahir dan profesional mengidentifikasi adanya ancaman kejahatan, sehingga dapat ikut serta mencegah gangguan di lingkungan sekitar tempatnya bekerja. Peran satpam di lingkungan organisasi sudah mulai meningkat,sehingga kualitas satpam harus di cermati karena mempengaruhi implementasi. Karena itu kualifikasi dan standar kompetensi Satpam pun harus ikut di tingkatkan. Peningkatan kualitas ini di tujukan untuk mengeliminir kerjahatan dengan tetap bekerja sesuai etika profesinya.

Sunday, December 8, 2013

Pengetahuan - Ketrampilan Dalam Mendukung Tugas Satpam

Satpam yang mampu mendukung keberhasilan kepemimpinan organisasi akan sadar terhadap kekuatan yang mereka hadapi dan mampu dengan cepat merubah pola kerjanya untuk menanggulangi perubahan dalam lingkungan pekerjaan. Ada tiga faktor yang sangat penting, yakni: kekuatan manager, kekuatan dalam pengikut, dan kekuatan dalam situasi,

Berhasilnya seorang Satpam dalam melaksanakan tugasnya, harus di dukung oleh pengetahuan dan ketrampilan yang menyangkut komunikasi, motivasi, dan memahami dinamika kelompok . Oleh karena itu keberhasilan satpam mendukung keberhasilan kepemimpinan organisasi merupakan hal penting. Jadi satpam yang berhasil bai tidak dapat di beri ciri khusus sebagai satpam yang kuat atau sebagai satpam yang lemah yang selalu membolehkan, tetapi satpam yang berhasil baik adalah orang yang dapat memelihara keseimbangan yang tinggi dalam menilai secara tepat kekuatan yang menentukan perilakunya yang paling cocok bagi waktu tertentu dan benar-benar mampu bertindak demikian.

Pentingnya faktor-faktor situasional dan penilaian satpam mengenai kekuatan yang di miliki organisasi, sekarang ini mendapat pengakuan yang lebih tinggi. Setiap model kerja satpam mempunyai karakteristik yang berusaha mengidentifikasi pola situasi lingkungan organisasi yang penting bagi keberhasilan kepemimpinan yang efektif.

Hasil karya satpam tergantung dari pengendalian interaksi antara pemimpin dengan situasi lingkungan organisasi yang menguntungkan. kepemimpinan di pandang sebagai hubungan yang di dasarkan pada kekuatan dan pengaruh. Jadi, perlu di pertimbangkan dua pertanyaan penting, yaitu:
1. sampai berapa jauh situasi mendukung peran satpam dalam mendukung kekuasaan dan pengaruh yang di perlukan untuk menjadi efektif; atau sampai seberapa jauh faktor-faktor situasi itu menguntungkan?
2. Sampai seberapa jauh satpam dapat mendukung pemimpin dalam meramalkan pengaruh dan kepemimimpinan terhadap perilaku dan hasil karya para pengikut lainnya?

Tiga faktor situasional yang mempengaruhi efektifitas satpam dapat mendukung pemimpin, yaitu: hubungan antara pemimpin-angota, struktur tugas, dan kekuatan posisi. Dari segi pandangan teoritis maupun intuitif, hubungan interpersonal antara pemimpin dan para pengikut lainnya kelihatannya merupakan kondisi yang terpenting yang menentukan kekuatan dan pengaruh. Pengaruh pemimpin sebagian tergantung dari penerimaan (acceptance) oleh pengikut. Jika orang lain bersedia mengikuti pemimpin karena karismanya, keahliannya atau saling menghormati, maka dalam hal ini pemimpin hanya sedikit memerlukan struktur tugas dan kekuatan posisi. Tetapi, jika pemimpin tidak di percaya dan di pandang negatif oleh para pengikutnya, maka situasi ini kurang menguntungkan.

Tuesday, December 3, 2013

Peran Satpam Dalam Pengendalian Situasi

Situasi atau kondisi merupakan fungsi ketiga dalam kepemimpinan, yang juga mempengaruhi peran kepemimpinan . Seorang satpam yang baik dalam mendukung kepemimpinan organisasi akan selalu berupaya bekerja sama dengan orang-orang yang dapat manambahkan dan meningkatkan kemampuannya. Hanya dengan mendapatkan semua kemampuan itu secara jujur dan adil serta terbukti, maka dengan sendirinya kepemimpinan organisasi akan berjalan dengan baik dan wajar.

Kondisi eksternal organisasi selalu mengalami perubahan seperti kompetensi baru atau adanya kesempatan baru, begitu pula kondisi internal yang secara kontinu mengalami perubahan seperti adanya proses baru atau pegawai baru. Ketika lingkungan/situasi mengalami perubahan, organisasi akan mengalami perubahan menyesuaikan perubahan baik perubahan eksternal maupun interbal, dan di tuntut untuk dapat mengendalikan setiap perubahan yang terjadi.

Pendekatan situasional (melihat situasi/kondisi, bukan dalam pengertian sewaktu-waktu), merupakan hal yang penting dalam kepemimpinan. Ini makanya seorang satpam yang mendukung keberhasilan pemimpin akan efektif jika mengetahui benar kondisi yang sedang dihadapinya, disini dan sekarang, serta lingkungannya. Kondisi eksternal maupun internal organisasi selalu dinamis, karena itulah dengan berubahnya kondisi lingkungan internal dan eksternal tersebut, Seorang satpam di tuntut mampu berubah sesuai dengan tuntutan keadaan.

Perilaku satpam dalam mendukung kepemimpinan ini diperlukan untuk mempertinggi prestasi organisasi yang tergantung pada perubahan situasi. Kepemimpinan yang efektif dalam situasi yang satu mungkin merupakan ketidakmampuan yang mengacaukan dalam situasi yang lain. Kepemimpinan yang situasional sangat menarik, tetapi pasti merupakan orientasi yang menantang untuk di laksanakan. Fondasi dasarnya menyatakan bahwa satpam yang mampu mendukung pemimpin secara efektif harus fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan perbedaan-perbedaan dan perubahan-perubahan yang terjadi pada situasi di lingkungan organisasi.

Friday, November 29, 2013

Peran Satpam Dalam Keberhasilan

Peran satpam sebagai pengikut dalam keberhasilan kepemimpinan

Satpam sebagai bagian dari pengikut dalam suatu organisasi merupakan bagian penting dari kepemimpinan, Namun seringkali peran mereka tida di hargai dengan kurang mendapatkan perhatian dalam proses kepemimpinan suatu organisasi maupun perusahaan. Padahal di ketahui bahwa harapan, ciri keperibadian, taraf kedewasaan, tingkat kemampuan, dan motivasi Satpam sebagai bagian dari pengikut sangat mempengarui proses kepemimpinan.

Banyak pengarahan atau dukungan yang harus di berikan pemimpin kepada satpam sebagai pengikut dalam suatu organisasi tergantung pada tingkat kematangan yang ditujukan satpam atas suatu tugas, fungsi, atau tujuan tertentu yang ingin dilaksanakan oleh pemimpin melalui individu atau kelompok. Selain itu perilaku kepemimpinan di pengaruhi oleh ciri ciri pribadinya serta keragaan diri atasan yang mampu menimbulkan dukungan pengikutnya.

Kematangan (maturity) para satpam sebagai pengikut dalam kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai suatu kemampuan dan kemauannya untuk bertanggung jawab dalam mengarahkan perilaku sendiri dengan tugas-tugas spesifik keamanan yang harus dilakukan. Kemampuan ini merupakan salah satu unsur dalam kematangan, berkaitan dengan pengetahuan atau keterampilan yang dapat diperoleh dari pendidikan, latihan dan pengalaman. Adapun kemauan merupakan unsur lain dari kematangan yang bertalian dengan keyakinan diri dan motivasi seseorang.

Dalam kaitannya dengan tingkat kematangan satpam dalam organisasi perlu di ingat bahwa tidak ada seorangpun yang mampu berkembang secara penuh (fully developed) atau sebaliknya di bawah garis kematangan (under developed). Dengan kata lain, kematangan merupakan sebuah kosep tentang penyelesaian tigas spesifik yang di berikan kepadanya.

Dengan demikian, hendaknya satpam sebagai pengikut dalam suatu organisasi dan perusahaan harus banyak belajar dan mampu menganalisa dan mengevaluasi masing masing individu dalam kelompok dengan memperhatikan tingkat kematangannya dalam memotivasi diri, untuk mencapai tujuan organisasi dalam mendukung visi dan misi yang dilaksanakan oleh pemimpin dan pengikut lainnya yang secara bersama-sama mempertahankan dan meningkatkan eksistensi organisasi.